Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hotel Baru Rasa Kolonial

Lobi yang dilengkapi dengan piano untuk menyambut tamu.

Oleh Reza Idris
Foto oleh Joe Sabarto

Lokasi
Didiami duta besar hingga mantan presiden, Menteng terkenal sebagai kawasan hunian paling elite di Jakarta. Kehadiran The Hermitage pada Juni silam menambah daya tariknya sebagai wadah untuk menyelami sejarah. Hotel bintang lima ini menempati struktur sepuh yang pernah dipakai sebagai gedung telekomunikasi Belanda, kantor presiden pertama RI, serta Universitas Bung Karno. Renovasinya dimulai pada 2012 oleh PT. Menteng Heritage Realty.

Cigar Room dan perpustakaan yang dihiasi foto presiden pertama RI yang memang sempat berkantor di sini.

Desain
Bangunan utamanya mempertahankan fasad Art Deco orisinal. Memasuki lobi, tamu disuguhi ruang serbaputih dengan langit-langit jangkung. Di kiri lobi bersemayam lounge yang dipercantik panel-panel kayu, ditambah sebuah bar yang menampilkan lantai tegel dengan corak khas 1920-an. The Hermitage terlihat berusaha keras merawat pesona masa silam bangunan. “Kami ingin tamu merasakan nuansa antik. Tidak cuma dari suasana interior, tapi juga furnitur dan barang-barang pajangan,” ujar Karina Eva Poetry, Public Relations Manager. Proses renovasinya melibatkan KIAT Architects dan arsitek Thomas Elliott. Demi menjaga memori bangunan, Tom menaburkan ornamen-ornamen uzur, termasuk membingkai batu bata yang dulu melekat di gedung, serta foto-foto masa silam gedung.

Kamarnya mengadopsi desain klasik nan elegan.

Kamar
Properti anggota Leading Hotels of the World ini memayungi 90 kamar yang terbagi dalam lima kategori. Balkon privat disediakan untuk tipe Executive Room hingga Presidential Suite. Khusus kelas suite, fiturnya mencakup antara lain amenity Hermès, dua ruang tamu, serta bathtub. Fasilitas standar lainnya adalah televisi 40 inci, akses internet gratis, dan mesin espresso dengan pilihan kopi Illy.

Kolam renang yang berada di puncak hotel.

Kuliner
Di bangunan sembilan lantai ini tamu memiliki cukup opsi untuk memuaskan perut. Di lantai dasar terdapat L’Avenue, restoran fine dining yang dialasi lantai marmer Carrara dan ditaburi mebel antik. Seluruh makanan dipasok dari dapur yang dikomandani Executive Chef Guillermo Varela Mata. Tangan lihainya meracik masakan Prancis yang dikombinasikan bumbu-bumbu Indonesia. Menu andalannya adalah lobster panggang dan risotto hitam dengan saus santan dan serai. Opsi makan outdoor ditawarkan oleh Courtyard Café. Duduk di kursi rotan, tamu bisa menyantap hidangan ringan seperti kroket kepiting, aneka roti, serta éclair. Sesi minum teh ala aristokrat tersaji di Hermitage Lounge, ruang elegan yang dihuni sofa kulit dan foto hitam putih, sementara sesi hangout di kala sunset ditawarkan oleh La Vue Rooftop & Bar di puncak hotel.

Jl. Cilacap No.1, Menteng; 021/3192-6888; The Hermitage Jakarta; doubles mulai dari $223.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Nov/Des 2014 (“Wadah Sejarah”)

Show CommentsClose Comments

Leave a comment

0.0/5